Minggu, 27 Oktober 2013

5 Model Rumah Tangga + 1



 5 Model Rumah Tangga + 1

Ada contoh dua kasus yang merupakan potret rumah tangga yang berkembang di masyarakat. Yang pertama adalah sebuah keluarga yang suaminya bekerja di offshore, dan kau tahu bekerja offshore itu sistemnya berbeda yaitu seperti pola 2-1, artinya dua minggu di laut, seminggu di rumah. Dua minggu meninggalkan istri, seminggu di rumah. Sementara istrinya di rumah mempunyai sifat dan karakter romantis. Kau dapat bayangkan ketika sang suami pergi untuk bekerja meninggalkan istri selama dua minggu, apa yang terjadi? Istri tidak setuju bahkan menahan suami untuk tidak berangkat bekerja karena ia masih ingin melapas rasa rindu dan kangennya terhadap sang suami. Tapi, ini suatu tuntutan pekerjaan yang harus ia lakukan. Suami merasa dilematis. Sekauinya tetap berangkat, istri mungkin akan kecewa. Tetapi kalau tidak beragkat, pekerjaan akan terbengkalai.


 

Kau tahu, bagaimana kesudahan tumah tangga ini? Berakhir pada satu kata ‘Perceraian’. Padahal yang suami orang yang kaya raya, penghasilanya cukup besar. Istrinya cantik. Ternyata itu semua tidak bisa menghentikan proses perceraian di antara mereka. Itu lah kasus pertama kita.

            Contoh kasus yang kedua. Dalam sebuah keluarga sang suami berprofesi sebagai seorang penulis. Kau tahu bukan, kalau seorang penulis tidak harus bekerja dikantor. Asal tersedia fasilitas memadai,seperti komputer, printer, fax, maka dia bisa menghasilkan uang. Gagasan-gagasannya dituangkan, lalu dikirim ke media-media yang dia inginkan. Ketika dimuat artikelknya dia akan mendapatkan uang. Itulah pola kerja seorang penulis. 

Tapi apa yang terjadi dengan istrinya? Setiap pagi dia selalu berbicara negatif terhadap suaminya. Apa kata sang istri? Sang istri berkata “Mas kerja dong mas, kok di rumah terus sih?”.

Tentu saja sang suami menjawab “Lho..mas menulis ini bekerja, mas menulis artikel, mas kirim, dimuat di salah satu media, dan dapat uang, nah itu mas bekerja”.

Namun sang istri tidak menerima definisi kerja suaminya, ”Mas, yang namanya bekerja itu adalah berangkat jam 8 pulang jam 5 dan pakai dasi.”

(Nah loh....apa definisi kerja menurut kalian...para pembaca, para insan sejati ^_^ )

Bagaimana kesudahan rumah tangga ini? Berakhir dengan kata yang sama ‘Perceraian’. Mungkin kalau kau menjadi konsultan perjodohan, pasti akan mengatakan bahwa tipe suami pertama (pelaut) akan cocok dengan tipe istri kedua, sedangkan tipe suami kedua (penulis) akan cocok dengan tipe istri pertama. Apabila sang suami atau sang istri memilih calon pasangan mereka yang sesuai dengan karakternya atau karakter pekerjaanya, mungkin selesai semua persoalan. Tapi, kebanyakan hal seperti itu tidak dipikirkan mereka pertama kali. Karena yang mereka berpikir pertama kali “Siapa calon saya?”, bukan menentukan Model rumah tangga atau gaya rumah tangga apa yang akan dibina dalam kehidupan mereka.

            Dari sebuah survei yang terbatas , kita melihat bahwa ternyata di masyarakat kita ada 5 (lima) macam model rumah tangga.

Yang Pertama – model rumah tangga gaya Hotel. Kau tahu hotel kan? Hotel adalah tempat transit, dia bukan tempat tinggal untuk menetap dalam jangka waktu yang lama. Kalau kau melihat ada sebuah rumah tangga dimana sang suami pulang ke rumah hanya untuk menumpang tidur, makan, (maaf) buang air, maka sebenarnya model rumah tangga itu sudah bisa disebut sebagai kategori model rumah tangga  gaya hotel. Yang sering disebut  3UR (Ddapur, Kasur, Sumur). Kalau rumah tangga anda seperti itu, maka anda harus hati-hati. Anda perlu mengambil pelajaran dari dua kisah yang saya sampaikan tadi. Saya yakin anda tidak akan memilih model rumah tangga yang pertama ini.
Yang Kedua – model rumah tangga gaya Hospital (Rumah Sakit). Kau pasti tahu apa yang ada di dalam rumah sakit? Di dalam rumah sakit itu ada yang namanya dokter dan ada yang namanya pasien. Si pasien berkata pada dokter, “ Dok, saya sudah berobat kemana-mana dan tidak sembuh juga. Ketika saya bertemu dengan Anda, saya bisa sembuh.” Wah dokter itu dengan arogan dan sombongnya mengatakan “Beruntung anda bisa berobat dengan saya, kalau tidak ada saya, kamu tidak akan bisa sembuh.” Itu kata sang dokter. Kemudian sebaliknya sang pasien mengatakan, “kalau saya tidak berobat dengan anda, anda tidak akan dapat uang.” Apa maksudnya? Model rumah tangga gaya hospital adalah model rumah tangga yang didasarkan pada politik balas jasa. Masing-masing merasa berjasa, merasa lebih, sehingga tidak akan ketemu, tidak akan ada sinergi. Suami merasa lebih berjasa kepada istrinya, istrinya pun merasa lebih berjasa kepada suaminya.
Alangkah ironisnya bila terjadi suatu keributan kecil dalam suatu rumah tangga, kemudia tiba-tiba sang istri emosional mengatakan kepada suaminya, “ Hei mas, sadar ya mas, lantaran kamu menikah sama saya kamu jadi punya rumah, tahu nggak rumah yang kita tinggali rumah siapa? Rumah orang tua saya,” itu kata sang istri. “Tahu nggak mobil yang mas pakai ke kantor setiap pagi itu mobil siapa? Mobil orang tua saya. Gara-gara menikah, mas bisa punya rumah, bisa punya mobil,”
Sang Suami dibegitukan tentu saja dia ikut emosi, kemudian mengatakan kepada istrinya, “Hey, Bu..kamu itu kalau tidak saya nikahi masih belum laku, masih di pinggir jalan. Beruntung kamu saya nikahi. Bersyukur kamu punya suami seperti saya.” (Nah...loh.... L ).
Kita sering menemukan model-model rumah tangga yang seperti ini, dimana suami merasa lebih berjasa, istri merasa lebih berjasa. Mudah-mudahakn ini tidak terjadi di Indonesia, tetapi setahu saya pernikahan para selebritis di Holywood sudah diawali dengan proses pembagian hak waris. Sejak awal sudah teken kontrak kalau saya menikah dan nanti berceerai, saya dapat apa dan kamu dapat harta apa. Jadi sudah ada pembagian, sudah ada bagi hasil sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Jadi, sebenarnya mereka tidak ingin mempertahankan pernikahannya. Sejak awal mereka pesimis akan pernikahan mereka sendiri.
Ok... kita buang saja model rumah tangga yang kedua itu. Kita lanjut ke model rumah tangga berikutnya.
Yang ketiga – Model Rumah Tangga Gaya Pasar.  Di pasar ada pembeli dan ada penjual. Si pembeli ingin membeli barang semurah mungkin, sebaliknya si penjual ingin menjual barang semahal mungkin. Si pembeli berkata, “Pokoknya harganya sekian.” Si penjual juga berkata, “Pokoknya harganya sekoan.” Dua – duanya pakai kata pokok. Susah, tidak ada koma, masing-masing menggunakan titik.
Begitu pula dalam rumah tangga, kalau suami mengatakan pokoknya dan istri mengatakan pokoknya, dua-duanya tidak menggunakan koma, masing-masing pakai titik; maka tidak ada lagi kesepakatan. Apa yang terjadi ketika seorang istri mengatakan kepada suaminya, “Pokoknya saya sebagai seorang istri tidak mau menjadi ibu rumah tangga, titik.” Suami berkata, “Pokoknya sejak kamu menjadi istri saya, tugas kamu adalah mencuci, mengepel,membersihkan, menyiapkan makanan, mengurus anak-anak, itulah tugas kamu, ibu rumah tangga, titik.” Kemudian istrinya mengatakan, “Pokonya sejak saya menikah dengan kamu, saya nggak mau hanya sekedar menyadi ibu rumah tangga, saya nggak mau hanya sekadar menjadi seorang istri, saya ingin bekerja Mas, saya ingin independen, saya tidak mau tergantung pada suami, saya ini jelek-jelek Sarjana lho mas.” Dua-duanya pakai titik. Huft.... Susah bro. Para insan sejati, harus ada bargaining power, harus ada satu tawar menawar yang semestinya dalam sebuah rumah tangga, harus ada kompromi.
Yang Keempat – Model Rumah Tangga gaya Grave (Kuburan). Anda tahu bagaimana suasana di kuburan, suasana yang khas dari kuburan itu adalah Sunyi, senyap, tenang dan tidak ada suara. Itulah rumah tangga  gaya kuburan. Suami istri hidup puluhan tahun tidak pernah berkomunikasi, tidak pernah ada kata-kata. Suami dan istri tidak bertegur sapa. No comunication, No words, tidak ada komunikasi, tidak ada kata-kata. Sehingga, wajarlah kalau anak-anak itu mengalami kesulitan berbicara. Ini pernah terjadi Insan sejati, ada sebuah keluarga di suatu kota ada sebuah keluarga yang tidak pernah mengadakan komunikasi antara suami dengan istri, akhirnya anak itu mengalami kesulitan berbicara, gagap, dalam berbicara, oadalah dia terlahir normal. Bagaimana dia bisa bicara sementara tidak mendapatkan kosakata sedikitpun dari orang tua karena orang tuanya tidak pernah bicara, tidak pernah berkomuikasi.
Para pembaca, para Insan sejati, saya yakin dari model yang pertama sampai model yang keempat ini, boleh jadi anda mungkiin termasuk salah satunya. Inilah saatnya kita jujur pada diri sendiri. Model rumah tangga seperti apa yang sedang anda miliki saat ini. Diskusikan dengan pasangan anda, jika anda seorang suami, tanyalah kepada istri anda. Kalau anda seorang istri tanyalah kepada suami anda. Boleh jadi anda akan menyesal kenapa anda memiliki gaya rumah tangga itu. I’ts better late than never. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, namun lebih baik mencegah dari pada pengobati.
Pada kesempatan yang baik ini kami ajak anda untuk memilih model yang kelima ditambah satu model yang keenam. Dan kita semua komitment (baik anda seorang calon suami maupun seorang calon istri untuk mewujudkan model rumah tangga yang kelima dan keenam). Apa model rumah tangga yang kelima dan keenam. Here we go..... ceck it out....^_^
Yang kelima – Model Rumah Tangga gaya Sekolah (School). Kenapa saya katakan gaya sekolahan? Model rumah tangga gaya sekolah itu adalah di tandai dengan 3A. A yang pertama adalah Asah, A yang kedua adalah Asih, A yang ketiga adalah Asuh. Kalau anda sekalian sependapat dengan model rumah tangga ini, maka mulai detik ini dan mulai saat ini Anda komitment bersama calon pasangan hidup anda, bagi yang sudah menikah komitment bersama suami atau istri anda. Katakan “saya bersama istri saya/ saya bersama suami saya bertekad, berkomitment untuk saling mengasah, mengasih dan mengasuh”. Saya katakan saling  ini karena ada komunikasi dua arah, bukan satu arah, bukan suami terhadap istri atau istri terhadap suami, harus ada dua arah. Kalau di jakarta ada yang namanya DKI ( Dibawah Ketiak Istri) atau ISTI (Ikatan Suami Takut Istri) atau kata Sule disebut SUSIS (Suami Sieun Istri)....hehehe...ada ada saja. Itu semua karena komunikasi hanya terjadi satu arah saja.
Dalam suatu rumah tangga yang sudah komitment, maka mereka mengawal komitment itu bersama. Bukan hanya satu pihak, tapi dua pihak sekaligus. Marilah kita berkomitment, saya akan membentuk rumah tangga gaya sekolah. Dan, anda siap dengan 3A tadi.
-          Saling mengasah. Apa itu saling mengasah? Saling menajamkan wawasan. Saya yakin tidak semua suami memiliki wawasan yang sangat luas, begitu pula istri. Dalam model rumah tangga gaya sekolah ini dengan adanya pertemuan suami istri, terjadilah pertukaran wawasan. Sharing Knowledge, Sharing Experiences, berbagi wawasan  dan pengalaman. Semakin bertambah tahun pernikahan, semakin bertambah wawasan kita. Mungkin suami pernah membaca buku ini, mengalami pengalaman ini itu, dia share sama istrinya. Atau sebaliknya, istri pernah membaca suatu topik di majalah tertentu kemudia dia share sama suami. Ada penambahan wawasan. Semakin bertambah tahun pernikahan Anda, semakin bertambah wawasan anda. Tidak harus anda kuliah S2, S3. Pernikahan Anda ibarat sekolah yang akan meningkatkan kemampuan anda.
-          Yang kedua adalah Asih, saling mengasihi.
-          Dan A yang ketiga adalah saling mengasuh, saling memberikan asuhan saling memberikakan asih, saling kasih sayang. Tidak boleh saling menunggu. Siapa yang berani memulai, berbuat langsung. Tidak menunggu bola, tapi harus menjemput bola.
Kemudian model yang keenam sebagai tambahan kepada anda,
Yang keenam -Model Rumah Tangga gaya Masjid. Kenapa saya katakan masjid? Masjid adalah sebuah gambaran model rumah tangga ASMARA (As Sakinah Mawaddah wa Rahmah) yang menjadi dambaan dan harapan setiap keluarga. Bukan hanya anda, tetapi juga saya. Semoga kita semua termasuk di dalamnya... Amiiin.
Bagaimana model rumah tangga gaya Masjid. Ada empat ciri:
1.      Ketulusan, Sincerity, dibangun dalam ketulusan. Shalat tidak akan sah kalau tidak dibangun dengan wudhu. Kita wudhu bersama. kita kumur-kumur, Kita basuh muka dan telapak tangan kita, kita basuh kepala kita, telinga kita, kita basuh kaki kita. Tujuannya adalah kebersihan hati, ketulusan jiwa. Rumah tangga masjid adalah ketulusan jiwa.
2.      Ada Imam dan ada Makmum. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga, jika Imam adalah suaminya, makmum adalah istri dan anak-anaknya. Imam bergerak ruku istri pun ruku, ada kebersamaan.
3.      Loyalitas. Keluarga sakinah adalah loyalitas. Kesetiaan mutlak dari istri terhadap suami. Kecuali jika telah melakukan penyimpangan.
4.      Shalat diakhiri dengan Salam. Asslamu’alaikum ke kanan dan kekiri. Keselamatan, ketenangan dan kedamaian senantiasa mewarnai suasana dalam rumah tangga gaya Masjid. Bukan keresahan, bukan konflik, bukan baku hantam.
Kesimpulan dalam pembahasan ini adalah bahwa untuk menjadi keluarga yang unggul, ada beberapa hal yang harus di perhatikan. Pertama, tentukan akhir yang anda inginkan dalam kehidupan rumah tangga ini. Tentukan model rumah tangga yang tepat, gaya rumah tangga sekolah dan masjid.  Kedua, tanamkan dalam pikiran anda dan pasangan anda komitment untuk memulai, tidak ada kata terlambat untuk memulai saati ini, detik ini kita bisa memulai. Sebagaimana disabdakan Rasullulah, “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari yang terdahulu maka dia termasuk orang-orang yang sukses”. Saya yakin anda ingin sukses, baik dalam rumah tangga maupun karir. Untuk bisa jadi orang sukses, marilah kita jadikan hari ini lebih baik dibandingkan kemarin, dan esok kita lebih baik dari hari ini.
Referensi: (Syarif, Reza M: 2008. Life Exclent, Menuju Hidup Lebih Baik. Depok: Prestasi Kelompok GEMA INSANI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar