5 Model Rumah
Tangga + 1
Ada contoh dua kasus yang merupakan potret rumah tangga
yang berkembang di masyarakat. Yang pertama adalah sebuah keluarga yang
suaminya bekerja di offshore, dan kau tahu bekerja offshore itu sistemnya
berbeda yaitu seperti pola 2-1, artinya dua minggu di laut, seminggu di rumah.
Dua minggu meninggalkan istri, seminggu di rumah. Sementara istrinya di rumah
mempunyai sifat dan karakter romantis. Kau dapat bayangkan ketika sang suami
pergi untuk bekerja meninggalkan istri selama dua minggu, apa yang terjadi?
Istri tidak setuju bahkan menahan suami untuk tidak berangkat bekerja karena ia
masih ingin melapas rasa rindu dan kangennya terhadap sang suami. Tapi, ini
suatu tuntutan pekerjaan yang harus ia lakukan. Suami merasa dilematis.
Sekauinya tetap berangkat, istri mungkin akan kecewa. Tetapi kalau tidak
beragkat, pekerjaan akan terbengkalai.
Kau
tahu, bagaimana kesudahan tumah tangga ini? Berakhir pada satu kata
‘Perceraian’. Padahal yang suami orang yang kaya raya, penghasilanya cukup
besar. Istrinya cantik. Ternyata itu semua tidak bisa menghentikan proses
perceraian di antara mereka. Itu lah kasus pertama kita.
Contoh kasus yang kedua. Dalam
sebuah keluarga sang suami berprofesi sebagai seorang penulis. Kau tahu bukan,
kalau seorang penulis tidak harus bekerja dikantor. Asal tersedia fasilitas
memadai,seperti komputer, printer, fax, maka dia bisa menghasilkan uang.
Gagasan-gagasannya dituangkan, lalu dikirim ke media-media yang dia inginkan.
Ketika dimuat artikelknya dia akan mendapatkan uang. Itulah pola kerja seorang
penulis.
Tapi
apa yang terjadi dengan istrinya? Setiap pagi dia selalu berbicara negatif
terhadap suaminya. Apa kata sang istri? Sang istri berkata “Mas kerja dong mas,
kok di rumah terus sih?”.
Tentu
saja sang suami menjawab “Lho..mas menulis ini bekerja, mas menulis artikel,
mas kirim, dimuat di salah satu media, dan dapat uang, nah itu mas bekerja”.
Namun
sang istri tidak menerima definisi kerja suaminya, ”Mas, yang
namanya bekerja itu adalah berangkat jam 8 pulang jam 5 dan pakai dasi.”
(Nah loh....apa definisi kerja menurut
kalian...para pembaca, para insan sejati ^_^ )
Bagaimana
kesudahan rumah tangga ini? Berakhir dengan kata yang sama ‘Perceraian’. Mungkin
kalau kau menjadi konsultan perjodohan, pasti akan mengatakan bahwa tipe suami
pertama (pelaut) akan cocok dengan tipe istri kedua, sedangkan tipe suami kedua
(penulis) akan cocok dengan tipe istri pertama. Apabila sang suami atau sang
istri memilih calon pasangan mereka yang sesuai dengan karakternya atau
karakter pekerjaanya, mungkin selesai semua persoalan. Tapi, kebanyakan hal
seperti itu tidak dipikirkan mereka pertama kali. Karena yang mereka berpikir
pertama kali “Siapa calon saya?”, bukan menentukan Model rumah tangga atau gaya
rumah tangga apa yang akan dibina dalam kehidupan mereka.
Dari sebuah survei yang terbatas ,
kita melihat bahwa ternyata di masyarakat kita ada 5 (lima) macam model rumah tangga.
Yang
Pertama – model rumah tangga
gaya Hotel. Kau tahu hotel kan? Hotel adalah tempat transit, dia bukan tempat
tinggal untuk menetap dalam jangka waktu yang lama. Kalau kau melihat ada
sebuah rumah tangga dimana sang suami pulang ke rumah hanya untuk menumpang
tidur, makan, (maaf) buang air, maka
sebenarnya model rumah tangga itu sudah bisa disebut sebagai kategori model
rumah tangga gaya hotel. Yang sering
disebut 3UR (Ddapur, Kasur, Sumur). Kalau rumah tangga anda seperti itu, maka
anda harus hati-hati. Anda perlu mengambil pelajaran dari dua kisah yang saya
sampaikan tadi. Saya yakin anda tidak akan memilih model rumah tangga yang
pertama ini.
Yang
Kedua – model rumah tangga
gaya Hospital (Rumah Sakit). Kau pasti tahu apa yang ada di dalam rumah sakit?
Di dalam rumah sakit itu ada yang namanya dokter dan ada yang namanya pasien.
Si pasien berkata pada dokter, “ Dok, saya sudah berobat kemana-mana dan tidak
sembuh juga. Ketika saya bertemu dengan Anda, saya bisa sembuh.” Wah dokter itu
dengan arogan dan sombongnya mengatakan “Beruntung anda bisa berobat dengan
saya, kalau tidak ada saya, kamu tidak akan bisa sembuh.” Itu kata sang dokter.
Kemudian sebaliknya sang pasien mengatakan, “kalau saya tidak berobat dengan
anda, anda tidak akan dapat uang.” Apa maksudnya? Model rumah tangga gaya hospital
adalah model rumah tangga yang didasarkan pada politik balas jasa.
Masing-masing merasa berjasa, merasa lebih, sehingga tidak akan ketemu, tidak
akan ada sinergi. Suami merasa lebih berjasa kepada istrinya, istrinya pun
merasa lebih berjasa kepada suaminya.
Alangkah
ironisnya bila terjadi suatu keributan kecil dalam suatu rumah tangga, kemudia
tiba-tiba sang istri emosional mengatakan kepada suaminya, “ Hei mas, sadar ya
mas, lantaran kamu menikah sama saya kamu jadi punya rumah, tahu nggak rumah yang
kita tinggali rumah siapa? Rumah orang tua saya,” itu kata sang istri. “Tahu
nggak mobil yang mas pakai ke kantor setiap pagi itu mobil siapa? Mobil orang
tua saya. Gara-gara menikah, mas bisa punya rumah, bisa punya mobil,”
Sang
Suami dibegitukan tentu saja dia ikut emosi, kemudian mengatakan kepada
istrinya, “Hey, Bu..kamu itu kalau tidak saya nikahi masih belum laku, masih di
pinggir jalan. Beruntung kamu saya nikahi. Bersyukur kamu punya suami seperti
saya.” (Nah...loh.... L ).
Kita
sering menemukan model-model rumah tangga yang seperti ini, dimana suami merasa
lebih berjasa, istri merasa lebih berjasa. Mudah-mudahakn ini tidak terjadi di
Indonesia, tetapi setahu saya pernikahan para selebritis di Holywood sudah
diawali dengan proses pembagian hak waris. Sejak awal sudah teken kontrak kalau
saya menikah dan nanti berceerai, saya dapat apa dan kamu dapat harta apa. Jadi
sudah ada pembagian, sudah ada bagi hasil sebelum pernikahan itu dilangsungkan.
Jadi, sebenarnya mereka tidak ingin mempertahankan pernikahannya. Sejak awal
mereka pesimis akan pernikahan mereka sendiri.
Ok...
kita buang saja model rumah tangga yang kedua itu. Kita lanjut ke model rumah
tangga berikutnya.
Yang
ketiga – Model Rumah Tangga
Gaya Pasar. Di pasar ada pembeli dan ada
penjual. Si pembeli ingin membeli barang semurah mungkin, sebaliknya si penjual
ingin menjual barang semahal mungkin. Si pembeli berkata, “Pokoknya harganya
sekian.” Si penjual juga berkata, “Pokoknya harganya sekoan.” Dua – duanya
pakai kata pokok. Susah, tidak ada koma, masing-masing menggunakan titik.
Begitu
pula dalam rumah tangga, kalau suami mengatakan pokoknya dan istri mengatakan
pokoknya, dua-duanya tidak menggunakan koma, masing-masing pakai titik; maka
tidak ada lagi kesepakatan. Apa yang terjadi ketika seorang istri mengatakan
kepada suaminya, “Pokoknya saya sebagai seorang istri tidak mau menjadi ibu
rumah tangga, titik.” Suami berkata, “Pokoknya sejak kamu menjadi istri saya,
tugas kamu adalah mencuci, mengepel,membersihkan, menyiapkan makanan, mengurus
anak-anak, itulah tugas kamu, ibu rumah tangga, titik.” Kemudian istrinya
mengatakan, “Pokonya sejak saya menikah dengan kamu, saya nggak mau hanya
sekedar menyadi ibu rumah tangga, saya nggak mau hanya sekadar menjadi seorang
istri, saya ingin bekerja Mas, saya ingin independen, saya tidak mau tergantung
pada suami, saya ini jelek-jelek Sarjana lho mas.” Dua-duanya pakai titik.
Huft.... Susah bro. Para insan sejati, harus ada bargaining power, harus ada satu tawar menawar yang semestinya
dalam sebuah rumah tangga, harus ada kompromi.
Yang
Keempat – Model Rumah Tangga
gaya Grave (Kuburan). Anda tahu bagaimana suasana di kuburan, suasana yang khas
dari kuburan itu adalah Sunyi, senyap, tenang dan tidak ada suara. Itulah rumah
tangga gaya kuburan. Suami istri hidup
puluhan tahun tidak pernah berkomunikasi, tidak pernah ada kata-kata. Suami dan
istri tidak bertegur sapa. No
comunication, No words, tidak ada komunikasi, tidak ada kata-kata. Sehingga,
wajarlah kalau anak-anak itu mengalami kesulitan berbicara. Ini pernah terjadi
Insan sejati, ada sebuah keluarga di suatu kota ada sebuah keluarga yang tidak
pernah mengadakan komunikasi antara suami dengan istri, akhirnya anak itu
mengalami kesulitan berbicara, gagap, dalam berbicara, oadalah dia terlahir
normal. Bagaimana dia bisa bicara sementara tidak mendapatkan kosakata
sedikitpun dari orang tua karena orang tuanya tidak pernah bicara, tidak pernah
berkomuikasi.
Para
pembaca, para Insan sejati, saya yakin dari model yang pertama sampai model
yang keempat ini, boleh jadi anda mungkiin termasuk salah satunya. Inilah
saatnya kita jujur pada diri sendiri. Model rumah tangga seperti apa yang
sedang anda miliki saat ini. Diskusikan dengan pasangan anda, jika anda seorang
suami, tanyalah kepada istri anda. Kalau anda seorang istri tanyalah kepada
suami anda. Boleh jadi anda akan menyesal kenapa anda memiliki gaya rumah
tangga itu. I’ts better late than never. Lebih
baik terlambat dari pada tidak sama sekali, namun lebih baik mencegah dari pada
pengobati.
Pada
kesempatan yang baik ini kami ajak anda untuk memilih model yang kelima
ditambah satu model yang keenam. Dan kita semua komitment (baik anda
seorang calon suami maupun seorang calon istri untuk mewujudkan model rumah
tangga yang kelima dan keenam). Apa model rumah tangga yang kelima dan keenam. Here we go..... ceck it out....^_^
Yang
kelima – Model Rumah Tangga gaya Sekolah (School). Kenapa saya katakan gaya sekolahan? Model rumah tangga
gaya sekolah itu adalah di tandai dengan 3A. A yang pertama adalah Asah, A yang kedua adalah Asih, A yang ketiga adalah Asuh. Kalau anda sekalian sependapat
dengan model rumah tangga ini, maka mulai detik ini dan mulai saat ini Anda
komitment bersama calon pasangan hidup anda, bagi yang sudah menikah komitment
bersama suami atau istri anda. Katakan “saya
bersama istri saya/ saya bersama suami saya bertekad, berkomitment untuk saling
mengasah, mengasih dan mengasuh”. Saya katakan saling ini karena ada komunikasi
dua arah, bukan satu arah, bukan suami terhadap istri atau istri terhadap
suami, harus ada dua arah. Kalau di jakarta ada yang namanya DKI ( Dibawah
Ketiak Istri) atau ISTI (Ikatan Suami Takut Istri) atau kata Sule disebut SUSIS
(Suami Sieun Istri)....hehehe...ada ada saja. Itu semua karena komunikasi hanya
terjadi satu arah saja.
Dalam
suatu rumah tangga yang sudah komitment, maka mereka mengawal komitment itu
bersama. Bukan hanya satu pihak, tapi dua pihak sekaligus. Marilah kita
berkomitment, saya akan membentuk rumah tangga gaya sekolah. Dan, anda siap
dengan 3A tadi.
-
Saling mengasah.
Apa itu saling mengasah? Saling menajamkan wawasan. Saya yakin tidak semua
suami memiliki wawasan yang sangat luas, begitu pula istri. Dalam model rumah
tangga gaya sekolah ini dengan adanya pertemuan suami istri, terjadilah
pertukaran wawasan. Sharing Knowledge,
Sharing Experiences, berbagi wawasan
dan pengalaman. Semakin bertambah tahun pernikahan, semakin bertambah
wawasan kita. Mungkin suami pernah membaca buku ini, mengalami pengalaman ini
itu, dia share sama istrinya. Atau sebaliknya, istri pernah membaca suatu topik
di majalah tertentu kemudia dia share sama suami. Ada penambahan wawasan.
Semakin bertambah tahun pernikahan Anda, semakin bertambah wawasan anda. Tidak
harus anda kuliah S2, S3. Pernikahan Anda ibarat sekolah yang akan meningkatkan
kemampuan anda.
-
Yang kedua adalah
Asih, saling mengasihi.
-
Dan A yang ketiga
adalah saling mengasuh, saling memberikan asuhan saling memberikakan asih,
saling kasih sayang. Tidak boleh saling menunggu. Siapa yang berani memulai,
berbuat langsung. Tidak menunggu bola, tapi harus menjemput bola.
Kemudian
model yang keenam sebagai tambahan kepada anda,
Yang keenam -Model
Rumah Tangga gaya Masjid. Kenapa
saya katakan masjid? Masjid adalah sebuah gambaran model rumah tangga ASMARA (As Sakinah Mawaddah wa Rahmah) yang
menjadi dambaan dan harapan setiap keluarga. Bukan hanya anda, tetapi juga
saya. Semoga kita semua termasuk di dalamnya... Amiiin.
Bagaimana
model rumah tangga gaya Masjid. Ada empat ciri:
1. Ketulusan, Sincerity, dibangun dalam ketulusan. Shalat
tidak akan sah kalau tidak dibangun dengan wudhu. Kita wudhu bersama. kita
kumur-kumur, Kita basuh muka dan telapak tangan kita, kita basuh kepala kita, telinga
kita, kita basuh kaki kita. Tujuannya adalah kebersihan hati, ketulusan jiwa.
Rumah tangga masjid adalah ketulusan jiwa.
2. Ada Imam dan ada Makmum. Alangkah indahnya sebuah rumah
tangga, jika Imam adalah suaminya, makmum adalah istri dan anak-anaknya. Imam
bergerak ruku istri pun ruku, ada kebersamaan.
3. Loyalitas. Keluarga sakinah adalah loyalitas. Kesetiaan
mutlak dari istri terhadap suami. Kecuali jika telah melakukan penyimpangan.
4. Shalat diakhiri dengan Salam. Asslamu’alaikum ke kanan dan
kekiri. Keselamatan, ketenangan dan kedamaian senantiasa mewarnai suasana dalam
rumah tangga gaya Masjid. Bukan keresahan, bukan konflik, bukan baku hantam.
Kesimpulan
dalam pembahasan ini adalah bahwa untuk menjadi keluarga yang unggul, ada
beberapa hal yang harus di perhatikan. Pertama, tentukan akhir yang anda
inginkan dalam kehidupan rumah tangga ini. Tentukan model rumah tangga yang
tepat, gaya rumah tangga sekolah dan masjid. Kedua, tanamkan dalam pikiran anda dan
pasangan anda komitment untuk memulai, tidak ada kata terlambat untuk memulai
saati ini, detik ini kita bisa memulai. Sebagaimana disabdakan Rasullulah, “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari
yang terdahulu maka dia termasuk orang-orang yang sukses”. Saya yakin anda
ingin sukses, baik dalam rumah tangga maupun karir. Untuk bisa jadi orang
sukses, marilah kita jadikan hari ini lebih baik dibandingkan kemarin, dan esok
kita lebih baik dari hari ini.
Referensi: (Syarif, Reza M: 2008. Life Exclent, Menuju Hidup Lebih Baik. Depok: Prestasi Kelompok GEMA INSANI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar